Pada masa orde lama, Pram adalah seorang sastrawan yang kontroversial dengan karya-karyanya. Pram dengan mesin ketiknya menghasilkan tulisan yang berpengaruh pada pemerintah orde lama dan pemerintah kolonial Belanda sehingga menjadi incaran karena kritikannya pada masa itu. Karya-karyanya tidak hanya mencerminkan realitas sosial, tetapi juga merupakan cermin dari perjalanan bangsa Indonesia itu sendiri karena terkait tentang perjuangan, perlawanan, serta ketidakadilan.
Pramoedya Ananta Toer, lebih dikenal dengan nama Pram. Ia lahir di Blora, Jawa Tengah, pada 6 Februari 1925. Beliau merupakan anak sulung dari delapan bersaudara. Ketika usia Pram menginjak 17 tahun, ibunya meninggal. Selang beberapa waktu disusul oleh adiknya yang masih berusia tujuh bulan. Ayah Pram kehilangan pekerjaan sebagai pegawai pemerintah kolonial Belanda. Karena kondisi ekonomi keluarganya yang memburuk, Pram harus menjadi tulang punggung bagi keluarganya.
Pram memulai karier sebagai penulis ketika merantau ke Jakarta. Ia bekerja dengan orang Jepang di Kantor Berita Domei sebagai juru ketik. Sembari bekerja, Pram meneruskan pendidikannya di Sekolah Tinggi Islam Dongdangdia jurusan filsafat, sosiologi dan sejarah. Di masa muda inilah Pram hidup dengan perjuangan yang membentuknya menjadi seorang sastrawan yang sangat peduli terhadap kepedihan dan kesengsaraan rakyat kecil.
Pada masa pascakemerdekaan, Pram mengikuti pelatihan militer Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Di masa ketika Pram masih menjadi tentara, ia ditangkap Belanda pada 1947 dengan tuduhan menyimpan dokumen pemberontakan melawan Belanda yang kembali ke Indonesia untuk berkuasa. Ia kemudian dipenjara di Bukit Duri. Kondisinya di penjara tak membuat Pram menyerah. Ia tetap melakukan perlawanan dengan menulis buku.
Pada saat itu penjara mempunyai fasilitas dengan menyuguhkan buku-buku dan alat tulis. Pram memanfaatkan kesempatan itu dengan menulis. Salah satu karyanya yang lahir pada saat Pram dipenjara oleh Belanda adalah bumi manusia. Dalam buku tersebut, ia menggambarkan kehidupan pribumi Indonesia yang terjajah oleh kolonialisme Belanda. Proses kebangkitan pribumi dari penderitaan yang sangat kelam dengan melakukan perlawanan terhadap penjajahan.
Tokoh utama dalam buku tersebut adalah Minke. Ia seorang pemuda yang berusaha mencari hak-hak dalam masyarakat yang penuh dengan ketidakadilan. Melalui Minke, Pram mengeksplorasi identitas pribumi yang terjajah. Ia sering kali menampilkan ketidaksetaraan dan sistem feodal dalam masyarakat yang membuat kehidupan kaum pribumi semakin menderita. Pram juga mengkritik sistem sosial yang ada, baik dalam masyarakat kolonial maupun setelah kemerdekaan.
Setelah 3 tahun di penjara oleh Belanda, Pram akhirnya dibebaskan. Pada masa orde baru tahun 1958, ia kembali ditangkap atas keterlibatannya di Lembaga Kebudayaan Jakarta (Lekra). Lekra dianggap terlibat dalam Partai Komunis Indonesia (PKI). Ketika bergabung di Lekra, Pram mengkritik pemerintahan orde lama dengan tulisan-tulisannya sehingga diburu dan diasingkan ke Pulau Buru selama belasan tahun bersama tahanan politik lainnya tanpa melalui proses pengadilan dahulu.
Kisah perjalanan Pram dari penjara ke penjara dan bertahun-tahun lamanya merupakan bukti nyata dari keteguhan dan kegigihannya melawan kekuasaan yang digunakan serampangan oleh pemerintah. Pram menggunakan penanya sebagai senjata untuk melewan mereka yang berkuasa. Meskipun dihadapkan berbagai rintangan dan tekanan, Pram tetap eksis untuk berkarya dan menuangkan pemikirannya melalui tulisan-tulisan yang kritis dan berani.
Pram menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan dalam 41 bahasa asing. Karya-karyanya tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga mendunia. Pram menciptakan karya sastra yang menyuarakan perlawanan terhadap penjajahan, ketidakadilan sosial, dan memperjuangkan kemanusiaan. Beberapa karya besar seperti Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca menunjukkan betapa mendalamnya pemikiran beliau tentang masyarakat dan sejarah Indonesia.
Salah satu ciri khas utama dalam karya-karya Pram adalah gaya penulisan yang realistis dan mendetail. Ia sangat mahir menggambarkan karakter dan suasana, menciptakan dunia yang hidup dan terasa nyata bagi pembaca. Penulisan Pram sering kali menggambarkan beberapa tokoh atau keadaan dalam suatu peristiwa. Ini tampak jelas dalam bukunya Bumi Manusia, di mana cerita tidak hanya terpusat pada satu tokoh atau peristiwa, tetapi juga melibatkan berbagai lapisan sosial dan sejarah.
Pemikiran Pram juga tidak terlepas dari pengaruh sastra dunia, terutama sastra Eropa dan sastra Amerika Latin yang banyak menyoroti tema-tema sosial dan revolusi. Karya-karya besar seperti Bumi Manusia sering kali dianggap sebagai bagian dari tradisi sastra modern yang menyoroti perjuangan manusia melawan kekuasaan dan penindasan. Pengaruh-pengaruh ini terlihat dalam cara Pramoedya membangun karakter-karakter yang kuat dan berani, yang melawan ketidakadilan dalam masyarakat mereka.
Latar belakang kehidupan pribadi Pram juga sangat berpengaruh dalam pembentukan gaya dan tema karya-karyanya. Pramoedya menghabiskan sebagian besar hidupnya di bawah penindasan, termasuk masa-masa di mana ia dipenjara oleh rezim Orde Baru setelah penulisan novel-novel yang dianggap subversif. Pengalaman pribadi ini, baik dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda maupun dalam perlawanan terhadap penguasa otoriter, mempengaruhi bagaimana ia memandang kehidupan dan masyarakat.
Di akhir hidup Pram, ia didiagnosis menderita radang paru-paru. Pihak keluarga membawa Pram ke rumah sakit karena sempat tak sadar diri. Setelah sadar, Pram bersikeras ingin pulang meskipun tidak direstui dokter. Kondisinya jadi lebih baik begitu sampai di rumah. Setelah beberapa jam kemudian kondisi Pram kembali memburuk. Pada 30 April 2006, Pram wafat dalam usia 81 tahun. Pram mungkin telah tiada, tetapi warisan karyanya tetap hidup dan menginspirasi generasi setelahnya. Sebagai sastrawan yang diburu, ia membuktikan bahwa kata-kata, jika disampaikan dengan tulus dan berani, dapat mengubah sejarah.
Penulis: Ribhan Saufani