Jika Tuhan itu ada, kenapa ada ujian yang harus dirasakan oleh setiap manusia? Pertanyaan semacam ini sangatlah wajar dipertanyakan oleh kita sebagai manusia. Manusia dengan kedudukan istimewa memiliki akal yang membedakannya dari makhluk lain. Karena memiliki akal, manusia pasti menyimpan banyak pertanyaan tentang apapun di dunia ini. Pertanyaan-pertanyaan muncul dari apa yang kita lihat, dengar dan rasakan.
Misalnya ketika kita melihat berita penjajahan Israel terhadap Palestina di sosial media. Kebrutalan zionis Israel membantai rakyat Palestina tanpa memandang bulu. Entah itu laki-laki atau perempuan, orang dewasa atau tua renta, bahkan bayi yang belum genap beberapa bulan atau tahun pun juga dibantai oleh mereka. Ribuan bangunan seperti rumah, sekolah dan fasilitas kesehatan hancur akibat serangan udara. Tak hanya bangunan yang hancur, hati mereka ikut remuk oleh kebengisan mereka. Semuanya tidak ada yang benar-benar utuh karena ulah mereka.
Dari fenomena tersebut, membuat beberapa orang terbesit dalam benak mereka sebuah pertanyaan skeptis. Jika Tuhan itu ada, kenapa masih ada manusia yang dibiarkan menderita? Dimana pengadilan Tuhan kepada hamba-Nya? Lalu mereka menganggap bahwa Tuhan itu jahat lantaran tega membiarkan warga palestina menderita selama bertahun-tahun lamanya. Bahkan lebih parah lagi mereka menyangkal sama sekali keberadaan Tuhan disebabkan tidak melihat bukti konkret pertolongan Tuhan terhadap rakyat Palestina atas kekejaman zionis Israel.
Pertanyaan dan dugaan skeptis seperti itu manusiawi. Tuhan tidak marah jika ada pertanyaan dan dugaan skeptis seperti itu terhadap-Nya. Dugaan skeptis tentang Tuhan tidak membuat iman seseorang muslim itu menjadi lemah. Hal itu justru memperkuat akidah seorang muslim lantaran menjadikannya ingin mengenal Tuhan lebih jauh lagi dengan sifat-sifat keagungan-Nya. Untuk menepis pertanyaan dan dugaan skeptis tentang Tuhan, penulis ingin memaparkan secara singkat terkait eksistensi Tuhan dan sifat-sifat-Nya.
Perlu dipahami adanya Tuhan berbeda dengan keberadaan kita. Eksistensi Tuhan tidak sama dengan eksistensi manusia. Manusia ada karena mempunyai tubuh; kepala, tangan, jari, kulit, kaki. Namun, Tuhan tidak melalui medium seperti itu. Al-Ghazali mengatakan dalam kitabnya ihya’ ulumuddin, “wa-annahu laisa bi-jismin mushawwarin wa-la jauharin mahdudin”. Tuhan ada tidak melalui tubuh yang berbentuk, juga bukan melalui substansi yang terbatas. Apapun yang kita gambarkan tentang Tuhan, Ia selalu melampaui gambaran itu.
Tuhan ada dan terlibat dalam hidup setiap individu. Dengan ujian, menjadi salah satu cara Tuhan untuk menunjukkan perhatian-Nya terhadap umat manusia. Semua ujian pasti mengandung hikmah atau pelajaran di baliknya. Ujian berat yang dirasakan oleh rakyat palestina pun memiliki banyak hikmah atau pelajaran untuk kita. Salah satu hikmahnya dengan penjajahan ini mengajarkan dunia tentang arti kemanusiaan, sehingga mempersatukan seluruh umat manusia tanpa memandang etnis, agama dan budaya dalam memperjuangkan keadilan bagi semua orang.
Kemampuan Tuhan tidak terbatas, begitu juga pengetahuan-Nya. Tak ada sebiji dzarrah pun baik di langit atau bumi yg luput dari pengetahuan Tuhan. Tuhan pun menyadari bahwa warga palestina sedang menderita. Mudah saja bagi Tuhan untuk melakukan intervensi dengan menurunkan pertolongan-Nya. Namun, Ia membiarkan apa yang terjadi karena ada alasan atau hikmah tertentu di balik ujian-Nya. Bukan hanya palestina yang diuji, sebetulnya kita juga sedang diuji oleh Tuhan bagaimana kita merespon apa yang terjadi dengan rakyat palestina.
Dalam pandangan Islam, dunia di mana kita hidup ini adalah tempat diselenggarakannya ujian. Tak seorang pun yang luput dari ujian Tuhan. Ujian Tuhan juga diperuntukkan kepada para nabi dan kekasih-Nya. Bahkan lebih dahsyat ujiannya dibanding manusia biasa. Nabi Muhammad yang paling istimewa kedudukannya dibanding nabi lain, juga pernah diperlakukan buruk oleh kaumnya, bahkan beliau dilempar kotoran hewan oleh orang-orang Quraisy saat itu.
Dari apa yang telah dialami nabi, kita dapat mengambil pelajaran tentang ketabahan dan kesabaran ketika nabi dikucilkan oleh kaumnya. Mengajarkan kekuatan akhlak meskipun dianiaya dan dihina, Nabi tetap menunjukkan akhlak yang baik dan tidak membalas perlakuan buruk tersebut. Peristiwa-peristiwa seperti ini menunjukkan bagaimana beliau dipersiapkan untuk menjadi pemimpin yang kuat dalam menghadapi berbagai cobaan meskipun dari orang-orang terdekatnya.
Lantas, bagaimana bisa kita beranggapan bahwa Tuhan itu jahat? Para nabi dan kekasih-Nya saja diberikan ujian begitu besarnya dibanding kita sebagai manusia biasa. Hal ini bisa menjadi cermin bagi kita untuk berpikir bahwa ujian bukanlah suatu yang buruk atau kejahatan dari Tuhan. Kita bisa melihat bahwa ujian adalah bentuk kasih sayang dan perhatian Tuhan untuk memperbaiki dan menguatkan hati kita. Setiap ujian memiliki makna dan tujuan yang lebih besar jika dilihat dari kacamata iman bukan dengan kacamata hardikan.
Secara ontologis, semua hal adalah baik, karena segala sesuatu terjadi sebagai manifestasi dari kehendak Tuhan. Dalam sejarah manusia, hal-hal yang jahat memiliki peran penting. Tanpa adanya kejahatan, kebaikan tidak bisa diuji untuk membuktikan nilai sebenarnya. Semua hal atau peristiwa hadir dalam kehidupan manusia untuk memenuhi iradah dan fungsi ontologis tertentu. Karena itu, tak ada sesuatu yang buruk dan jahat dari kacamata ontologis. Sebagaimana pernyataan al-Ghazali, dunia yang ada saat ini adalah bentuk terbaik.
Akhirul kalam, Tuhan menciptakan ujian kepada hamba-Nya lantaran Tuhan Maha cinta. Bahasa cinta yang disampaikan oleh-Nya kepada seorang hamba memang tidak dapat dipahami secara langsung. Perlu perenungan yang mendalam dalam mencapai makna bahasa cinta-Nya. Bukan karena Tuhan tidak memahami keadaan kita, tapi kita saja yang tidak dapat memahami bahasa cinta Tuhan. Cinta Tuhan meliputi segalanya. Tuhan masih menunjukkan cinta dan rahmat kepada mereka yang berdosa kepada-Nya, maka, bayangkan betapa ia mencintai orang yang taat kepada-Nya.