By: Bahjatun Mahmudah
Ramadan di Kairo sebagai transformasi atmosferik yang mengubah wajah kota menjadi sebentuk fragmen memori yang hidup. Ketika matahari mulai condong ke ufuk barat, menyisakan semburat jingga di atas deretan pencakar langit tua dan menara-menara masjid yang runcing, Kairo yang biasanya bising oleh klakson mobil dan teriakan pedagang, perlahan-lahan meluruh dalam kesyahduan yang ganjil. Di saat itulah, bagi seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menimba ilmu di bumi peradaban ini, sebuah perasaan asing mulai menyelinap di sela-sela lapar dan dahaga, sebuah rindu yang berlabuh tepat di tepian Sungai Nil, tepat saat adzan Maghrib dari Al-Azhar menggema membelah cakrawala, menciptakan resonansi yang menggetarkan hingga ke relung jiwa yang paling dalam.
Mesir, atau yang sering kita sebut sebagai Ardhul Kinanah, memiliki cara unik untuk merayakan bulan suci yang seolah-olah melibatkan seluruh panca indera untuk tunduk pada keagungan-Nya. Sebulan sebelum hilal nampak, jalanan sudah bersolek dengan rupa yang eksotis. Fanous (lentera warna-warni khas Mesir yang legendaris) mulai digantung di gang-gang sempit kawasan Husein hingga ke balkon-balkon apartemen mewah di Heliopolis. Ada aroma bakhour yang terbakar hebat, bercampur dengan wangi roti aish panas yang baru keluar dari tungku tanah, menciptakan simfoni aroma yang hanya bisa ditemukan di sini. Namun, bagi anak rantau yang datang dari kepulauan nan jauh di Timur, kemeriahan ini seringkali terasa seperti sebuah panggung sandiwara yang indah sekaligus asing. Kita berdiri di sana, di tengah kerumunan orang Mesir yang saling menyapa dengan hangat, “Ramadan Kareem!”, namun di dalam saku jaket kita, ada rindu yang berdenyut kencang, rindu pada suara ketukan bedug di surau kampung halaman, rindu pada aroma manis kolak pisang buatan ibu, dan rindu pada keriuhan takjil di pasar bedug yang tidak akan pernah kita temukan padanannya di sini, seberapa pun lezatnya kunafa atau qathayef yang tersaji di meja berbuka.
Ketika adzan berkumandang dari menara-menara Al-Azhar yang megah, bagi kita, suara itu adalah jangkar yang menahan kapal jiwa agar tidak hanyut dalam kesepian. Al-Azhar adalah alasan fundamental mengapa kita berada ribuan kilometer jauhnya dari pelukan keluarga, dan suara muazin yang berat serta berwibawa itu seolah mengingatkan bahwa rasa lapar yang kita rasakan adalah bagian dari taruhan besar bagi masa depan.
Ada momen-momen magis yang tak terlupakan saat kita duduk bersimpuh di pelataran masjid peninggalan Dinasti Fatimiyah tersebut. Sambil menggenggam sebutir kurma dan segelas air yang terasa begitu nikmat, kita melihat wajah-wajah dari seluruh penjuru dunia, dari Afrika yang legam, Asia Tengah yang bermata elang, hingga Eropa dan Amerika, Semuanya menyatu dalam satu frekuensi rasa. Di sinilah rindu rumah secara perlahan berubah bentuk menjadi sebuah persaudaraan universal yang melampaui batas paspor dan bahasa. Kita mungkin merindukan rumah di Nusantara, tetapi di pelataran Al-Azhar, kita diingatkan bahwa kita sedang membangun “rumah” yang lebih kokoh dan luas di dalam batin kita sendiri.
Keindahan Ramadan di tanah para nabi ini juga terpahat kuat dalam tradisi Mawaidul Rahman, meja-meja panjang di pinggir jalan yang disediakan secara cuma-cuma bagi siapa saja yang ingin berbuka. Di sinilah sisi puitis Mesir memuncak dalam kedermawanan yang tulus. Orang-orang yang mungkin secara ekonomi hidup dalam kesahajaan, dengan semangat yang luar biasa suka rela menarik tangan para pejalan kaki, bahkan terkadang memaksa mereka duduk untuk mencicipi hidangan berbuka yang mereka sediakan. Sebagai mahasiswa rantau yang seringkali harus berakrobat dengan anggaran bulanan yang terbatas, Mawaidul Rahman adalah sebuah pelajaran tentang martabat dan kemuliaan manusia. Di atas piring plastik berisi nasi briyani dan sepotong ayam, kita belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu tentang apa yang kita miliki di rumah asal, tetapi tentang bagaimana kita merasa diterima dan “dimanusiakan” di tanah asing yang gersang. Namun, ironisnya, keramahan yang meluap dari orang-orang Mesir ini justru seringkali mempertebal rasa rindu yang ada. Kita seketika teringat pada tangan-tangan tulus di tanah air yang melakukan hal serupa, dan rindu itu entah mengapa selalu menemukan jalan pulangnya melalui kebaikan-kebaikan kecil dari orang asing yang tak pernah kita kenal namanya.
Sungai Nil kemudian menjadi saksi bisu yang paling setia bagi jutaan doa yang dipanjatkan oleh para perantau yang sedang gundah. Jika malam tiba, setelah rangkaian salat Tarawih yang panjang dan khusyuk di masjid-masjid bersejarah, berjalan menyusuri koridor tepian Nil adalah sebuah ritual penyembuhan yang meditatif. Airnya yang tenang dan berwarna gelap mencerminkan kelap-kelip lampu kota yang tak pernah tidur. Di sini, di bawah hembusan angin malam yang membawa hawa dingin dari gurun, rindu itu tidak lagi terasa menyakitkan atau menghimpit dada, ia bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih reflektif dan puitis. Kita mulai menyadari bahwa menjadi “anak rantau Mesir” adalah sebuah kontrak suci untuk tumbuh lebih dewasa daripada usia biologis kita. Kita belajar untuk mandiri, belajar memasak hidangan nusantara dengan bumbu-bumbu pengganti yang seadanya, mencoba mereplikasi rasa rendang dengan rempah pasar tradisional Kairo yang aromanya berbeda, atau mencari daun salam di antara tumpukan daun peterseli yang melimpah. Setiap suapan “nasi goreng ala kadarnya” yang kita nikmati di apartemen sempit di wilayah Hayy Sabi’ atau Darrasah adalah sebuah upacara penghormatan kecil kepada rumah. Kita makan untuk memuaskan rasa lapar fisik, sekaligus merawat ingatan agar tidak luntur oleh debu-debu Kairo.
Mengapa rindu ini terasa begitu mendominasi justru di bulan yang penuh berkah ini? Mungkin karena Ramadan, pada hakikatnya, adalah bulan tentang kepulangan. Secara spiritual kita dipanggil untuk pulang kembali ke fitrah, dan secara sosial kita memiliki insting alami untuk pulang ke hangatnya dekapan keluarga. Bagi mahasiswa di Mesir, Ramadan adalah ujian mental yang nyata dan sangat personal. Di saat media sosial dipenuhi oleh unggahan teman-teman di tanah air yang sedang berbuka bersama keluarga besar dalam suasana riuh, kita di sini harus berjibaku dengan diktat-diktat tebal berbahasa Arab, menghadapi jadwal ujian tashfiyah yang melelahkan, sambil terus-menerus menekan gejolak emosi yang ingin menyerah pada rasa sepi. Namun, justru di dalam tekanan itulah letak keindahan yang sesungguhnya. Rindu yang berlabuh di tepian Nil ini adalah rindu yang menjadi bahan bakar bagi perjuangan. Kita sadar bahwa setiap butir air mata yang jatuh karena teringat wajah ibu, akan dibayar tunai dengan ilmu yang akan membawa manfaat besar suatu hari nanti. Kita sedang menanam pohon zaitun di padang pasir jiwa kita, yang akarnya menghujam jauh ke bumi peradaban dan buahnya kelak akan dinikmati oleh orang-orang di tanah air yang sedang menunggu kepulangan kita dengan bangga.
Pada akhirnya, menjalani Ramadan sebagai anak rantau di Mesir adalah sebuah perjalanan panjang untuk mendefinisikan kembali apa arti “pulang” yang sebenarnya. Kita belajar dengan sungguh-sungguh bahwa rumah adalah titik koordinat geografis di atas peta dunia, melainkan sebuah keadaan damai di dalam jiwa yang berserah. Selama kita masih bisa mendengar gema adzan yang syahdu dari menara-menara tua Kairo, selama kita masih diberi kesempatan untuk bersujud di atas tanah yang pernah dipijak oleh para nabi dan syuhada, maka sesungguhnya kita belum benar-benar kehilangan rumah. Rindu itu akan tetap ada, menetap dengan setia dan berlabuh di tepian Nil, menari-nari di antara kepulan asap shisha yang samar dan aroma rempah pasar yang tajam. Namun rindu itu telah kita titipkan sepenuhnya pada Sang Pemilik Hati. Esok atau lusa, saat kaki ini kembali menginjak bumi Nusantara. Kita akan membawa pulang sekeping hati yang telah ditempa oleh kesunyian dan kemegahan Ramadan di Mesir, sebuah hati yang telah memahami dengan sempurna bagaimana rasanya mencintai tanah air justru ketika berada di kejauhan yang paling sunyi. Gema Azhar akan terus mengudara, Nil akan terus mengalir menuju muara, dan rindu ini akan tetap berlabuh dengan tenang, menunggu waktu yang paling tepat untuk akhirnya membentangkan layar dan berlayar pulang.